Shalat, Akhlaq Mulia, dan Kasih Sayang

SholatDua puluh tujuh Rajab, sekitar 1393 tahun yang lalu, Penghulu para rasul, Muhammad SAW, telah diperjalankan dari Masjid al-Haram di Makkah ke Masjid al-Aqsa di Palestina dan kemudian melesat menuju “pertemuan” dengan Allah SWT di Sidratu al-Muntaha dalam 1 malam. Melalui peristiwa maha penting yang penuh hikmah ini pula, Rasulullah SAW menerima perintah yang Maha Penting yang tak lain adalah perintah Shalat 5 waktu. Mengapa Shalat begitu pentingnya sehingga untuk menyampaikan perintah tersebut, Dia menyampaikannya langsung kepada Rasul-Nya tanpa perantara siapapun. Bahkan al-Quran menggambarkan diantara Muhammad SAW dan Rabb-Nya ketika itu hanya terdapat jarak “sepanjang dua busur anak panah atau bahkan lebih dekat dari itu” (QS.An-Najm: 9).

Shalat adalah ibadah yang mencakup tujuan dasar penciptaan manusia sekaligus tujuan pengutusan Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul. Mengapa demikian? Terdapat ayat dan hadits yang secara lugas menunjukkan hal ini.

Pertama, “Dan tidak kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah (Allah). [QS. Adz-Dzariyat: 56]”. Ayat ini secara jelas mengatakan bahwa satu-satunya tujuan penciptaan manusia (dan jin) adalah untuk membina hubungan (ruhani) dengan Allah SWT. Shalat adalah ibadah yang menghubungkan manusia yang melaksanakannya dengan Allah SWT. Bahkan Nabi SAW mengatakan bahwa “Shalat adalah mi’raj nya orang beriman.” Maka terhadap Shalat, mari kita hadirkan peristiwa mi’raj Nabi SAW dimana beliau sebegitu dekatnya dengan Allah SWT.

Kedua, dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda “Aku tidak diutus oleh Allah SWT kecuali untuk menyempurnakan Akhlaq yang mulia.” Disini jelas sekali dikatakan bahwa penyempurnaan Akhlaq mulia adalah satu-satunya tujuan pengutusan beliau saw sebagai rasul. Kita pun melihat al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa sesungguhnya shalat itu mencegah orang dari perbuatan yang keji dan munkar, yang tak lain adalah untuk mencegah dari akhlaq yang buruk.

kasih-sayangKetiga, dalam al-Quran, Allah SWT, berfirman: “Dan tidak kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat (kasih sayang) bagi alam semesta.” Jelas sekali dinyatakan bahwa tersebarnya kasih sayang di alam semesta adalah satu-satunya tujuan diajarkannya Islam.Shalat hanya diterima dari orang yang memiliki kesadaran dan melakukan tindakan untuk menyantuni dan mengurusi sesamanya yang memerlukan uluran tangannya. Seperti tampak jelas dalam surat al-Ma’un (4-7) yang mengecam orang yang melakukan shalat tetapi lalai akan nilai-nilai shalat.

Ketiga kutipan dari sumber ajaran Islam itu menggunakan struktur kalimat yang mirip (“tidakkecuali”) menunjukkan dengan sangat jelas bahwa tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia mengabdi kepada Allah. Tujuan diutusnya Muhammad saw adalah menyempurnakan akhlaq mulia. Serta diajarkannya Islam adalah agar rahmat tersebar kepada alam semesta. Segera tampak pula bahwa ibadah shalat memiliki fungsi yang sama:  mencegah akhlaq yang buruk, dan menanamkan kesadaran serta mendorong tindakan menebarkan kasih sayang dan amal-amal shaleh.

Inilah kiranya mengapa Shalat yang didapatkan dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini merupakan Ibadah Maha Penting yang berkaitan dengan tujuan penciptaan manusia, tujuan pengutusan Nabi SAW, dan tujuan risalah Islam. Mari kita menghisab diri kita masing-masing. Sudahkah Shalat kita membuahkan kemuliaan akhlaq? Sudahkan shalat kita mendorong kita untuk menebar kasih sayang kepada sekitar kita?

Ya Allah.. Bantu dan bimbing kami pada jalan-Mu, yaitu jalan orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai. Amien.[UA]

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s