Topeng Monyet, Jilid 2

Semenjak saya menulis “Topeng Monyet” [28-Nov-2008], entah kenapa saya jadi sering melihat bahwa atraksi monyet pintar ini di jalan2 yg saya lalui. Di perempatan jalan, di komplek2 perumahan, bahkan katanya sudah masuk ke mall2 pula.. Hmmm.. Ah, mungkin itu hanya perasaan saya saja.

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke mertua sekaligus menghabiskan liburan akhir tahun di Lampung. Pada suatu siang, fauzan anak sulungku berteriak2 sambil ngejar tukang topeng monyet yang lewat depan rumah mertua. Mengetahui itu, aku minta tolong Husin –keponakan istriku—untuk memanggilkan saja tukang topeng monyet itu ke rumah.

Tak lama setelah itu Husin pun kembali bersama tukang topeng monyet tadi. Pertama melihat tukang topeng monyet itu, saya melihat ada hal baru. Baru kali ini saya melihat tukang topeng monyet itu naik motor untuk menjajakan kepintaran monyetnya beratraksi. Selama ini yang saya tahu, tukang topeng monyet selalu berjalan kaki dengan memanggul peralatan beserta monyetnya (kadang juga ular) dan memukul2 gendangnya.

Rupanya bisnis topeng monyet telah tersentuh dengan manajemen inovasi. Tanpa belajar konsepnya Kaplan dan Norton (Balanced Scorecard, red), tukang topeng monyet itu rupanya telah berfikir untuk melakukan inovasi supaya bisnisnya bisa tetap tumbuh dan bertahan serta memiliki kinerja keuangan yang baik melalui pelanggan yang lebih banyak. Walhasil, itu pelajaran pertama yang saya dapat begitu tukang topeng monyet itu muncul di hadapan saya.

Setelah bersiap-siap sebentar, kemudian mulailah si tukang mengeluarkan monyetnya dari tempatnya. Tentu saja masih dalam keadaan lehernya dipasang rantai agar sang tukang bisa mudah mengendalikannya. Sejurus kemudian sang monyet pun mulai beratraksi dibawah iringan gendang ala kadarnya dari tuannya. Berjalan, membawa payung, keranjang belanja, dll sampai dengan jumpalitan sesuai dengan perintah tuannya. Sang tukang terkadang mengulur dan menarik rantai dari monyet itu sebagai tanda bagi si monyet apakah dia harus kembali atau berjalan terus ke suatu arah tertentu.

Atraksi itu membuat anak-anak yang berkerumun melihatnya sangat senang. Mereka pun tak jarang menggoda monyet itu dengan mengelus kepalanya atau memegang buntutnya dari belakang. Monyet itu seperti tanpa ekspresi menanggapi godaan anak2 itu. Wah, luar biasa sekali monyet ini dalam menjalankan tugasnya, pikirku. Sopan-santun terhadap para “customer”-nya ketika menjalankan tugasnya. Dia sadar betul bahwa dia adalah unjung tombak penghasilan tuannya. Dia sadar betul bahwa itu adalah mata pencariannya yang menuntut dia harus berlaku begitu. Itu pelajaran kedua yang saya ambil dari monyet itu.

Setelah menyelesaikan semua atraksinya, maka si tukang topeng monyet itu menutup acara dengan salam perpisahan, terima kasih atas perhatian para penonton, dan tentu saja meminta upahnya yang 10 ribu perak. Si monyet itupun kemudian ditarik untuk masuk ke kandang yang terletak di belakang motornya. Barangkali karena acaranya cukup singkat, maka anak2 yang tadi menonton pertunjukan monyet tadi masih ingin bertegur sapa dengan sang monyet. Beberapa anak masih cekikikan melihat wajah monyet di kandangnya yang cukup terbuka itu. “Lain kali kesini lagi ya, nyet! Sering-sering kesini ya!”, ucap anak-anak itu berusaha ngobrol dengan si monyet yang santun tadi.

Kali saya lihat ekspresi monyet agak berbeda dari sebelumnya. Salah seorang anak yang ingin mengelus kepala monyet tadi (seperti yang dia lakukan sebelumnya), langsung dibalas dengan tangkisan (baca: cakaran) tangan dan kuku monyet itu. Untung saja anak tsb tidak terluka karenanya. Si tukang topeng monyet itu pun menegur, “Kalau nggak lagi main, jangan coba-coba menggoda monyet ini. Kalau dia lagi main sih dia nggak akan marah..”.

Wah, ini pelajaran yang paling menarik buat saya. Rupanya monyet ini benar-benar profesional. Dia menyadari betul bahwa dia jumpalitan karena itulah profesinya. Dia bersedia menjatuhkan harkat “kemonyetan”-nya untuk digoda2 dan disentuh oleh anak kecil karena itulah profesi dia. Tapi diluar itu, jangan coba2 meminta saya melakukan hal yang serupa! Monyet tadi sudah memahami sepenuhnya perbedaan antara profesi dengan kehidupan sehari-hari.

Seorang guru TK dituntut harus sabar ketika menghadapi anak2 didiknya, walaupun diluar itu bisa jadi dia bukan seorang penyabar. Seorang konsultan dituntut untuk berusaha keras memikirkan solusi terbaik bagi para klien-nya, walaupun di luar itu sering kali dia mempunya banyak masalah yang juga membutuhkan solusi. Seorang dokter dituntut untuk memberikan advis medis terbaik buat para pasiennya, walaupun seringkali dia juga tidak melakukan hal serupa ketika masalah yang sama menghampirinya.

Hmm…sekali lagi.. kita dipaksa berfikir untuk menjawab pertanyaan: “Lantas..Apa bedanya kita dengan monyet ha??!”. [Umar Alhabsyi, 6 January 2009]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s