Cara Pandang

Hari itu Ruang Serba Guna dari Kantor Pusat sebuah BUMN telah disulap menjadi venue ibadah rutin seminggu sekali di hari Jumat.  Ya, Jum’atan. Saya duduk hampir bersamaan dengan mulainya khutbah. Saya tidak kenal siapa khatibnya, tapi ada hal menarik dari konten khutbahnya yang ingin saya share disini.

Waktu itu, sang khatib membawakan sebuah riwayat yang dinisbatkan pada Ibnu Abbas (ra). Diriwayatkan ada seseorang mengajukan 3 pertanyaan kepada Ibnu Abbas ra, mengenai hari terbaik, bulan terbaik dan amalan terbaik. Ibu Abbas (ra) menjawab bahwa menurutnya hari terbaik adalah hari Jumat. Bulan terbaik adalah bulan Ramadhan. Sedang amal terbaik adalah Sholat 5 waktu pada waktunya.

Di lain waktu, orang yang bertanya kepada Ibnu Abbas (ra) tersebut bertemu dengan Sayyidina Ali (karamaLLahu wajhah). Orang tersebut pun menceritakan mengenai 3 pertanyaan yang dia ajukan kepada Ibnu Abbas ra berikut jawabannya. Menarik komentar sang pintu kota ilmu Rasul ini terhadap cerita orang tersebut. Beliau (ra) mengatakan, jika pertanyaan tersebut disampaikan kepada seluruh ulama maupun hukama maka niscaya engkau akan memperoleh jawaban darinya yang sama seperti jawaban Ibnu Abbas (ra), kecuali dariku. Jika engkau bertanya padaku terkait 3 pertanyaan tersebut maka jawabanku akan berbeda.

Jika aku ditanya mengenai apa amalan terbaik, maka aku akan menjawab bahwa amal terbaik adalah setiap amalan yang dilakukan dengan ikhlas dan diterima oleh Allah SWT. Tidak ada amal yang lebih baik dari amalan yang dilakukan dengan ikhlas dan diterima oleh Allah SWT.

Jika aku ditanya mengenai apa bulan terbaik, maka jawabanku adalah bulan dimana engkau melakukan taubat yang sesungguhnya. Jika pada bulan itu engkau bertaubat sungguh-sungguh terhadap dosa yang kau perbuat, maka itulah bulan terbaik. Maka jadikanlah setiap bulan adalah bulan terbaikmu dengan melakukan taubat atas dosa yang telah engkau perbuat.

Kemudian jika aku ditanya mengenai hari terbaik, maka engkau akan beroleh jawaban dariku bahwa hari terbaik adalah hari di akhir hayatmu dimana engkau mendapatkan akhir yang baik (husn al-khatimah). Tidak ada hari di dunia ini yang lebih baik dari hari dimana engkau mengakhiri dunia ini dengan husnul khatimah. Betapapun kita telah mengalami hari-hari baik selama hidup, maka hari-hari itu tak akan dapat mengungguli the final happy ending of our life.

Menurut saya apa yang disampaikan oleh Sang Khatib tersebut menarik.

Pertama, bahwa kedua jawaban tersebut itu sama-sama benar. Imam Ali (ra) pun tidak menyalahkan jawaban dari Ibnu Abbas (ra). Beliau hanya mengatakan bahwa beliau punya jawaban yang berbeda atas pertanyaan yang sama.

Kedua, masalah cara pandang. Menurut saya, cara pandang Ibn Abbas dalam hal ini lebih kepada pendekatan teks secara literal. Bahwa memang ada teks ayat atau hadits yang menyatakan bahwa hari terbaik, bulan terbaik dan amalan terbaik sebagaimana yang beliau ungkapkan. Sehingga beliau mengungkapkan persis seperti yang tertuang disana. Sedangkan cara pandang Imam Ali –menurut saya– lebih bersifat “substantif”. Jawaban beliau –walau mungkin tidak eksplisit diungkapkan persis dalam teks—namun sulit untuk dipertanyakan atau terbantah.

Seseorang bisa saja mempertanyakan mengapa hari Jumat adalah hari terbaik (yang memang sayyidul ayyam), misalnya dengan apakah hari lain bukan hari terbaik sehingga tidak perlu disambut sehangat sambutan pada hari Jumat. Tapi saya kira sulit untuk membantah bahwa hari terbaik adalah hari ketika seseorang mengakhiri hidupnya dengan sukses (husnul khatimah).

Seseorang bisa saja mempertanyakan apakah di luar bulan Ramadhan yang merupakan bulan terbaik (yang memang demikian, terutama karena unzila fiihi al-quran dan berbagai keutamaan lain dari bulan ini), kita boleh teledor dan kurang hormat dalam menjalani waktu-waktu kita. Tapi saya kira sulit untuk membantah bahwa bulan terbaik adalah setiap bulan dimana kita melakukan taubat yang sungguh-sungguh atas dosa yang telah kita perbuat. Dengan berpendirian seperti itu, maka setiap bulan berpeluang untuk menjadi bulan terbaik dan memotivasi kita untuk menjadikannya terbaik dengan taubat-taubat kita.

Seseorang bisa saja mempertanyakan sholat 5 waktu pada waktunya adalah amal terbaik, apakah karena itu seseorang yang telah mengamalkan itu akan memperoleh privilege untuk kurang memerhatikan amalan lainnya karena tidak sebaik sholat 5 waktu pada waktunya. Atau apa artinya jika amal tersebut (sholat 5 waktu pada waktunya) jika tidak dilakukan dengan ikhlas dan diterima oleh Allah SWT? Jadi saya kira jawaban Imam Ali itulah inti dari amalan terbaik, yaitu dilakukan dengan ikhlas dan diterima oleh Allah SWT. What else can we expect and hope for?

Tapi betapapun ini hanya penafsiran lebih lanjut dari saya setelah mendengar dua riwayat yang disebutkan oleh Khatib Jumatan kemarin. Bisa benar, bisa tidak. Anda pun boleh setuju, boleh tidak. Setelah jumatan itu, saya pun kembali beraktifitas dan berharap dapat sering melakukan amal terbaik, termotivasi untuk menjadikan setiap bulan adalah bulan terbaik, dan berharap agar memperoleh hari terbaik nanti di akhir hayat saya nanti. Taqabbal ya Rabb. [Umar/01-Apr-2012]

Advertisements

One thought on “Cara Pandang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s