Infaq dalam Al-Quran

Ilustrasi-InfaqPentingnya Taqwa pada Allah

Pada setiap khutbah Jumat, khatib diwajibkan untuk selalu memberikan pesan agar kita selalu meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Sedemikian pentingya ketaqwaan ini sehingga harus selalu diulang-ulang memberikan pesan Taqwa ini setidaknya pada setiap Jumat di seluruh penjuru dunia. Mengapa demikian?

Dalam surat adz-Dzariyat: 56, Allah SWT menyatakan bahwa manusia dan jin ini diciptakan tidak lain hanya untuk beribadah/menghamba kepada Allah SWT. Lalu untuk apa manusia beribadah?

Dalam surat al-Baqarah: 21, Allah SWT menyatakan bahwa tujuan dari perintah Ibadah itu adalah agar kita sekalian ber-Taqwa kepada Allah SWT. Sehingga dengan demikian taqwa kepada Allah SWT ini begitu pentingnya karena terkait langsung dengan tujuan penciptaan seluruh manusia dan jin.

 

Karakteristik Kelompok Orang yang Bertaqwa

Al-Quran banyak menjelaskan karakteristik orang yang bertaqwa pada Allah SWT. Diantara penjelasannya dapat kita lihat pada ayat-ayat awal surat al-Baqarah, dimana dinyatakan bahwa orang bertaqwa itu: (1) beriman pada yang ghaib; (2) mendirikan Shalat (hubungan dengan Allah nya baik); (3) Menginfakkan sebagian rezeki Allah (hubungan dengan sesama manusianya baik); (4) mengimani seluruh kitab-kitab Allah; (5) meyakini adanya hari akherat.

 

Allah SWT sangat Menekankan Pentingnya Infak

Sebagai salah satu bagian penting dari ketaqwaan, Allah SWT sangat menganggap penting permasalahan Infaq ini. Sehingga Allah SWT menggunakan berbagai metode penyampaian dalam al-Quran agar kita tersentuh untuk senantiasa ber-Infaq atas rezeki yang kita dapatkan. Infaq yang dimaksud disini mencakup baik yang wajib (misal: Zakat, Kafarat, Fidyah, dll) maupun sunnah (sedekah). Rezeki yang dimaksudkan disini juga bukan hanya meliputi harta saja, tapi segala hal yang kita peroleh dan kita mendapatkan manfaat darinya (misal: ilmu).

Metode Al-Quran pertama, adalah dengan menyampaikan bahwa yang diminta untuk diinfaq-kan itu hanya sebagian dan dari rezeki yang diberi Allah kepada kita (bukan dari kita). Hanya sebagian kecil saja sebenarnya yang diminta untuk diberikan. Kalau itu berupa zakat –misalnya– hanya 2,5% saja yang diminta dikeluarkan, sedangkan yang 97.5% silahkan dinikmati. Layakkah kita kikir?

Metode Al-Qur’an kedua, adalah dengan menyatakan bahwa harta yang kita dapatkan itu bukan harta kita, tapi harta Allah (rujuk QS An-Nuur:33). Mengapa kita menjadi kikir terhadap sesuatu yang bukan milik kita?

Metode Al-Qur’an ketiga, adalah dengan menyatakan bahwa harta yang kita dapatkan itu adalah titipan Allah (rujuk QS. Al-Hadid: 7). Jadi kita ini sebenarnya hanya dititipi harta oleh Allah SWT. Mengapa kita tidak mau mengeluarkan ketika diperintah oleh Yang Menitipkan pada kita? Jika kita tidak amanat terhadap titipan, layakkah kita dipercaya untuk menerima titipan-titipan berikutnya?

Metode Al-Qur’an keempat, adalah dengan menyatakan perintah untuk berinfak dan Allah SWT janji akan menggantinya dengan berlipat ganda (10x lipat, 100x lipat, 700x lipat, dan ada juga ayat yang cukup dengan mengatakan BANYAK). Apakah kita tidak yakin akan janji Allah tersebut sehingga kita berat untuk berinfak?

Metode Al-Qu’an kelima, adalah dengan menyatakan bahwa Allah SWT minta dihutangi oleh kita untuk menggugah kita agar mau berinfaq. Silahkan dirujuk misalnya di Al-Baqarah: 245:

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan

 

Infaq sebenarnya untuk Kita Sendiri

Berbagai cara yang disampaikan Allah dalam Al-Quran untuk melakukan kebaikan seperti Infaq ini sebenarnya hanyalah sepenuhnya untuk kebaikan kita sendiri. Allah sebenarnya tidak butuh kebaikan dari kita. Allah juga tidak butuh infaq kita. Tapi kitalah yang membutuhkannya. Rujuk antara lain di QS. Al-Isra’: 7 : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri….

Dalam hal Infaq ini antara lain dampak bagi manusia adalah agar tercipta keadilan sosial melalui dikuranginya kesenjangan antara si kaya dan si miskin, terciptanya suasana masyarakat yang saling membantu, stabilitas sosial, dll.

Bagi orang yang mengeluarkan infaq itu sendiri, Rasulullah SAW pernah bersabda melalui Sayyidina Ali ra, bahwa harta yang di-infaq-kan itu  sebelum sampai kepada yang menerimanya akan menyampaikan 5 pernyataan kepada yang memberikan:

(1) Kuntu qalilatan fa katsartani (dulu aku sedikit, sekarang kau jadikan aku banyak)

(2) Kuntu shaghiratan fa kabbartani (dulu aku kecil, sekarang kau jadikan aku besar)

(3) Kuntu aduwwan fa ahbabtani (dulu aku musuh, sekarang kau jadikan aku yang dicintai)

(4) Kuntu faniya fa abqaitani (dulu aku fana, sekarang aku kau kekalkan)

(5) Kuntu makhrus fal’an sirtu haritsan (dulu aku yang dijaga, sekarang aku yang akan menjagamu)

 

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang yang senantiasa meng-infaq-kan rezeki yang kita peroleh. Semoga kita termasuk ke dalam kelompok orang yang disebutkan oleh Allah SWT dalam Al-Baqarah: 274:

yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati

Duhai semoga kita bisa berada pada posisi tersebut. Taqabbal Ya Allah, Ya Rabb al-‘Alamîn.[]

Advertisements

One thought on “Infaq dalam Al-Quran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s