Semua kerana CINTA

CINTAManusia pada dasarnya merupakan gabungan dari eksistensi fisik (materi) dan non-fisik (ruhani). Eksistensi fisik adalah berupa wujud fisik kita yang terdiri dari badan berikut tangan, kaki, mata, telinga, dan anggota badan lainnya.

Sedangkan bagian yang non-fisik (ruhani) dari manusia pada dasarnya terdiri atas 2 komponen, yaitu: Akal dan Perasaan [1].

 

Akal berfungsi untuk dapat mengetahui sesuatu. Dia berperan untuk menyingkap dan menunjukkan sesuatu. Perannya ibarat lampu di depan mobil. Ia menerangi jalan sehingga pengemudi jadi mengetahui apa yang ada di hadapan mobil.

 

Sedangkan perasaan merupakan tempat bersemayamnya rasa CINTA dan BENCI terhadap sesuatu. Perasaan inilah yang berperan mendorong untuk melahirkan dan menggerakkan perilaku dan tindakan. Dengan analogi mobil seperti diatas, maka Cinta itu ibarat bensin yang membuat mobil memiliki energi untuk berjalan.

 

Rasa cinta membuat seseorang melakukan hal yang perlu dilakukannya dengan senang hati tanpa ada rasa keterpaksaan. Seperti ibu yang merawat bayinya 24 jam, 7 hari seminggu. Juga bapak yang mencari nafkah banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Perbuatan dan perjuangan ini takkan lahir hanya dari akal semata, melainkan pasti diakibatkan oleh adanya CINTA.

 

Allah SWT menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya kebahagiaan akhirat yang abadi jika mereka melakukan 2 hal: Iman dan Amal saleh. Banyak ayat al-Quran ygn menegaskan ini. Allah SWT selalu menggandengkan IMAN dengan AMAL SALEH. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa iman dan amal saleh adalah 2 hal yang tidak dapat dipisahkan.

 

Dikaitkan dengan kedua komponen ruhaniah manusia tadi, Iman bersumber dari pengetahuan yang lahir melalui akal. Orang yang tidak berakal atau tidak mungkin menggunakan akalnya maka dia tidak terkena beban tanggung-jawab Agama. Seperti kata Nabi saw bahwa tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki akal.

Sedangkan amal saleh itu sesungguhnya digerakkan oleh CINTA.

 

Iman kepada sesuatu merupakan sebuah reaksi dari seseorang ketika mendapatkan argumentasi yang dapat diterima oleh akalnya. Akalnya tak dapat mengingkari sesuatu yang masuk akal. Sedangkan melaksanakan amal saleh sebagai tindak lanjut dari Iman tersebut bersifat opsional, Ikhtiyari, tanpa paksaan. Dan amal ini lahir tak lain karena CINTA.

Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal sebenarnya mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan (QS. An-Naml [27]: 14.)

 

Orang murtad adalah karena hilangnya cinta kepada Allah bukan karena goncangan yang menggoyahkan akalnya.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya,…..” (QS. Al-Maidah[5]: 54]

 

Menurut para Mufassir ayat di atas menunjukkan bahwa pentingnya posisi CINTA. Sampai2 orang murtad dari agama Allah itu disebabkan karena pudarnya CINTA orang tersebut kepada Allah SWT.

 

Nabi SAW mengatakan dalam haditsnya bahwa belumlah beriman kalian hingga Allah dan Rasul-Nya lebih kamu cintai dari diri kamu sendiri.  Pada kesempatan yang lain Rasulullah SAW menyatakan bahwa Agama itu adalah nasihah (diulang 3 kali). Para Sahabat bertanya, “Untuk siapakah, wahai Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “untuk Allah Azza Wa Jalla, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya SAW, untuk barisan kepimpinan ummah Islam dan untuk ummah Islam seluruhnya.” (Hadith Riwayat Muslim).

 

Nasihah ini juga berarti kecintaan yang tulus dan murni. Sehingga disini Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya kecintaan yg tulus kepada Allah, Rasul-Nya, dst itu sebagai INTI dari Agama itu sendiri. Beliau mengulangnya hingga 3x.

 

Kalau kita melihat dalam sejarah, kita akan melihat bahwa kejayaan Islam itu hanya dapat diraih oleh orang-orang yang memiliki CINTA kepada Allah dan Rasul-Nya yang melebih apapun selainnya. Misalnya jika kita melihat ke Palestina. Dalam sejarah semasa Islam, Palestina sejauh ini hanya dapat dikuasai 2 kali saja, yaitu: Pertama, pada masa Khalifah Umar bin Khattab ra dan Salahuddin al-Ayyubi. Kita akan melihat kaitannya dengan CINTA ALLAH dan CINTA RASUL.

 

Pada zaman Salahuddin al-Ayyubi, waktu itu pasukan Islam sedang dalam kondisi terdesak, moralnya terpuruk karena gempuran dari pasukan musuh waktu itu. Sultan Salahuddin kemudian berusaha untuk mencari cara bagaimana membangkitkan moral dan semangat pasukan Islam saat itu. Dan seperti telah terbukti sepanjang sejarah Islam, tak lain cara yang harus dilakukan adalah dengan membangkitkan cinta kaum muslimin kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu antara lain Salahuddin membuat sayembara penulisan syair maulid yang berisi pujian kepada rasul, ungkapan kerinduan kepada Rasul, sejarah perjalanan hidup dan segala sesuatu yang dapat membangkitkan lagi kecintaan umat muslim kepada Rasulullah SAW. Dan diantara pemenang dalam sayembara tersebut adalah Syaikh Al-Barzanji, yang karyanya hingga kini masih populer di kalangan umat Islam termasuk di Indonesia.  Dan dengan CINTA RASUL yang terbakar ini maka semangat umat muslim bangkit kembali dan berhasil membebaskan Palestina.

 

Cara-cara yang serupa ini juga dipraktikkan pada zaman Rasul dan Sahabat. Misalnya antara lain Ibnu Katsir menceritakan bahwa ketika pada perang Yamamah, dimana umat Islam di bawah pimpinan panglima Khalid bin Walid sempat terdesak oleh pasukan Musailamah al-Kadzab, maka kemudian Khalid al-Walid menyemangati kaum muslimin dengan meneriakkan: Ya Muhammadah (wahai Muhammad, tolonglah kami). Dan pasukan muslimin seketika bangkit dan kemudian ketika pasukan Islam berhasil membunuh Musailamah, Khalid pun kembali berteriak: Yaa Muhammadah (wahai Muhammad, tolonglah kami).

 

Kemudian kesempatan lain dimana kaum Muslimin berhasil menduduki Palestina, adalah pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ra. Kita tahu bagaimana cinta Umar ra kepada Allah dan Rasul-Nya. Suatu kali dikisahkan Rasulullah SAW berjalan sambil menggandeng tangan Umar ra. Lalu Umar ra berkata kepada Nabi saw: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apapun kecuali diriku sendiri. Maka Nabi saw menjawab: “Tidak, demi yg jiwaku berada ditanganNya, hingga aku sangat engkau cintai lebih dari dirimu sendiri. Lalu Umar berkata kepada beliau: Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebih diriku. Maka Nabi saw bersabda: “Sekarang (engkau benar), wahai Umar.

 

Dan ini beliau buktikan dalam segala tindak-tanduknya. Sewaktu kaum muslimin berhasil mengepung Palestina, penguasa palestina waktu itu Uskup Partriach Sophronius mau menyerahkan Palestina dengan damai kepada Islam dengan syarat serah terimanya dilakukan langsung kepada pemimpin tertinggi muslimin saat itu, khalifah Umar bin Khattab. Alhasil pesan tersebut disampaikan kepada khalifah dan disanggupi oleh khalifah. Khalifah pun berangkat berdua dengan seorang pembantunya menggunakan 1 ekor unta. Secara bergantian keduanya menaiki onta dan berjalan kaki. Sementara di palestina sudah disiapkan penyambutan yg megah tapi ternyata yang datang dari kejauhan hanyalah 2 orang yang bergantian naik onta.

 

Maka sang Uskup pun semakin yakin bahwa keputusannya untuk menyerahkan Palestina kepada Islam adalah keputusan yang tepat. Pemimpin umat Islam adalah seperti sifat2 yg diceritakan dalam  kitab injil dan taurat mereka.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath[48]: 29)

 

Rasulullah saw sangat-sangat mencintai kita semua umatnya. Kita sangat sulit untuk menjelaskan secara tepat bagaimana cinta rasul kepada kita.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 128)

 

Dikisahkan oleh Aisyah ra bahwa setiap malam Rasulullah saw shalat malam. Dalam setiap sujud di shalat-shalat malamnya tanah tempat sujudnya senantiasa basah oleh air mata beliau. Ketika beliau saw duduk kakinya basah oleh tetesan air mata sucinya. Aisyah ra bertanya apa yang membuatmu menangis wahai kekasih Allah? Bukankah engkau sudah dijamin oleh Allah akan surga dan berbagai Rahmat-Nya?

Maka beliau pun berkata …

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَائِشَةَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهَا وَمَا تَأَخَّرَ ، وَمَا أَسَرَّتْ وَمَا أَعْلَنَتْ

“Ya Allah, ampunilah dosa ‘Aisyah yang terdahulu dan yang kemudian, yang tersembunyi dan yang terang-terangan.”

(Mendengar itu) ‘Aisyah pun gembira berbunga-bunga, sampai-sampai kepalanya tersandar di pangkuan Rasulullah saw lantaran kegembiraannya itu.

Beliau pun bertanya, “Apakah doaku membuatmu senang?

‘Aisyah menjawab, “Bagaimana mungkin aku tak bergembira dengan doamu?

Beliau bersabda, “Demi Allah, itu adalah doaku untuk UMATKU pada setiap shalatku.

 

Rasulullah saw amat sangat-sangat mencintai kita. Dalam banyak kesempatan Rasulullah saw mengatakan bahwa kita kelak akan dikumpulkan bersama dengan yang kita cintai.

Sudah sejauh manakah cinta kita kepada Rasul termulia ini? Arah Cinta inilah yang akan sangat menentukan kesuksesan kita di dunia maupun di akherat nanti. Semuanya memang kerana Cinta.

 

Ya Allah demi hak Sayyidina Muhammad dan keluarganya atasmu, sampaikan sholawat atas Sayyidina Muhammad dan keluarganya

dan karuniakanlah kepada kami, kepada orang tua kami, kepada pasangan kami, kepada anak-anak kami, dan kepada keturunan-keturunan kami yang hidup setelah kami kecintaan kepada Sayyidina Muhammad dan keluarganya

Ya Allah ya Tuhan kami, hidupkanlah kami  diatas kecintaan tersebut, dan matikanlah kami dalam kecintaan tersebut, serta kumpulkanlah kami kelak di barisan orang-orang yang mecintai Sayyidina Muhammad dan keluarganya, bersama Sayyidina Muhammad dan keluarganya. Kabulkanlah harapan kami ini Ya Allah, Wahai Yang Maha Mulia. []

 

[1] Al-Buthi, Said Muhammad Ramdhan. “Kitab Cinta: Menyelami Bahasa Kasih Sang Pencipta”. Noura Books. 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s