Sang Nabi Paripurna, Sang Rahmat untuk Semesta

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H, Majlis Ta'lim Ar-Rouhah Bandung, 10 Januari 2015

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H, Majlis Ta’lim Ar-Rouhah Bandung, 10 Januari 2015

(disarikan dari Ceramah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Majlis Ta’lim Ar-Rouhah Bandung,
oleh Prof. Dr. M. Quraish Syihab)

 

Sungguh sempurna sifat-sifat keluhurannya
andaikan ia menghadiahkan sinar bagi bulan purnama,
pasti tak ‘kan ia tertutup oleh gerhana
betapapun banyak cara dilakukan orang,
mencoba menguraikan sifat keluhurannya
namun sampai zaman berakhir,
tak ‘kan mungkin mereka meliputi semuanya….

(Al-Habib Ali Al-Habsyi dalam Maulid Simthud Durar)

 

Abbas Mahmud al-‘Aqqad, seorang cendikiawan asal Mesir, pernah menulis sebuah karya berupa buku yang menjelaskan biografi berbagai tokoh besar pemikir dan pemimpin dunia. Dalam karyanya tersebut dia mengatakan bahwa pada setiap tokoh terdapat sebuah kunci kepribadian yang membuat sang tokoh tersebut menjadi besar. Dia menemukan kunci pada setiap tokoh yang dia teliti tersebut yang dengannya dapat membuka seluruh kepribadian utama lainnya yang dimiliki oleh tokoh tersebut.

 

Sayyidina Abu Bakar ra, misalnya, mempunyai kunci kepribadian yaitu “kekaguman pada tokoh”. Beliau sangat kagum kepada tokoh Rasulullah Muhammad saw, sehingga apapun yang dikatakannya maka dia mengimaninya. Oleh sebab kunci kepribadian inilah Sayyidina Abu bakar adalah diantara orang yang pertama beriman kepada Rasulullah saw. Kunci ini pula yang menyebabkan beliau langsung percaya terhadap kabar peristiwa Isra Mi’raj yang dilakukan oleh tokoh yang sangat dikaguminya, Rasulullah Muhammad SAW. Sehingga ia pun digelari Ash-Shiddiq.

 

Berbeda dengan Sayyidina Umar bin Khattab ra. Menurut al-‘Aqqad, Sayyidina Umar itu memiliki kunci kepribadian seperti seorang “tentara”. Orangnya memiliki ketegasan, keberanian dalam bertindak, dan juga kepatuhan pada pimpinan. Walaupun mungkin memiliki pendapat yang tidak sesuai, tapi ketika itu merupakan perintah pimpinannya (dalam hal ini Rasulullah saw), maka sikapnya adalah Sami’na wa ‘Atho’na (aku mendengar, dan aku taat). Itu pula sebabnya keislaman Sayyidina Umar lebih belakangan dibanding Sayyidina Abubakar ra. Kalau Abubakar kagum dulu pada tokohnya, baru kemudian pada ajarannya. Sedangkan Umar ra kagum pada ajarannya terlebih dahulu, baru kemudian pada tokohnya.

 

Demikian seterusnya Al-‘Aqqad mengungkapkan kunci-kunci kepribadian dari berbagai tokoh besar dunia dalam sejarah. Namun lidahnya seakan kelu, jari-jemarinya seperti kaku, akalnya seperti mengalami frustasi ketika mencoba menemukan kunci kepribadian dari penghulu para nabi dan Rasul, Sayyidina Muhammad SAW. Bagaimana tidak? Ketika kutemukan sebuah kunci lalu aku masuk, ternyata didalamnya kutemukan kunci untuk ke ruangan yang lain lagi yang ketika kumasuki, aku temukan lagi kunci-kunci berikutnya. Dan pada akhirnya aku menyerah dan beroleh kesimpulan bahwa mustahil untuk dapat mengungkapkan kepribadian dari sosok Rasulullah SAW secara lengkap. Kepribadiannya itu seperti gunung yang tinggi. Mustahil seseorang dapat merangkul melingkupi gunung tersebut. Hanya telunjuk yang dapat menunjuk keberadaan gunung tersebut. Itu gunung kepribadian Muhammad, Sang Insan Kamil.

 

Al-Habib Ali Al-Habsyi –seperti juga al-‘Aqqad—juga memiliki pendapat yang sama sebagaimana diungkapkannya dalam petikan syair maulid nya yang disebutkan di awal. Mustahil seseorang dapat mengungkapkan secara lengkap keluhuran sifat Rasulullah Muhammad saw. Betapapun usaha dilakukan oleh banyak orang, sampai kapanpun tak munngkin dapat menguraikan keagungan sifat dan akhlaq dari nabi kita, habibullah Muhammad SAW[1].

 

Dengan kepribadian yang demikian maka Mustahil, sekali lagi Mustahil seseorang yang mengenal Nabi Muhammad SAW hanya berhenti pada kekaguman pada kepribadiannya saja. Tetapi pasti ia akan berlanjut pada percaya terhadap ajaran yang dibawanya. Tentunya dengan syarat, ia memang betul mengenal beliau SAW.

 

Apabila kita mengkaji al-Quran, maka akan ditemukan banyak hal menarik yang ingin Allah sampaikan kepada kita mengenai sosok insan mulia (saw) ini.

 

Diantaranya kita menemukan bahwa dalam al-Quran tidak seorang manusia pun yang disebut sifatnya sebagai “ar-Rahim” kecuali Nabi Muhammad SAW. Tak ada yang lain, beliau lah satu-satunya insan yang disebuat oleh yang Maha Rahim sebagai ar-Rahim. Oleh karena itu segala sesuatu yang berkaitan dengan beliau saw pastilah merupakan Rahmat.

 

Ayat wa maa arsalnaka ‘illa rahmatan li’l ‘aalamiin (QS. Al-Anbiya: 107), tidak tepat jika diterjemahkan bahwa Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW hanya untuk membawa Rahmat bagi sekalian alam. Karena seorang pembawa itu berbeda dengan apa yang dibawanya. Seseorang yang membawa hadiah tentu tidak sama dengan hadiahnya itu sendiri. Sedangkan Rasulullah SAW bukan hanya membawa Rahmat saja, tapi sosok beliaunya sendiri itu adalah Rahmat. Seperti kata beliau (saw): “…Ana rahmatun muhdah”. Aku ini rahmat yang dihadiahkan kepada alam semesta.

 

Prof. Dr. M. Quraish Syihab

Prof. Dr. M. Quraish Syihab

Allah SWT menjelaskan dalam al-Quran surat at-Taubah: 128 bagaimana rahmat beliau terhadap umat manusia. Tak ada jarak antara beliau saw dengan umatnya. Bahkan beliau saw yang mendatangi kita dan dari “anfus” yang sama. Apa yang umatnya rasakan, keresahan dan derita dalam hati umatnya juga beliau saw rasakan. Beliau sangat menginginkan kebaikan dan kebahagiaan bagi umatnya. Dan Nabi Muhammad saw itu adalah seorang yang Rauf dan Rahim pada orang-orang beriman. Demikianlah pernyataan dari Sang Maha Ra’uf dan Maha Rahim.

 

Alhasil, semua yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW adalah Rahmat. Dan semua yang bertentangan dengan Rahmat, pasti bukanlah dari beliau (saw).

 

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.(QS. Ali Imran: 159)

 

 

Manusia bermacam-macam. Ada manusia yang hatinya baik, tapi perkataannya kotor. Ada yang lisannya manis, tapi hatinya busuk. Adapun Nabi Muhammad saw, baik hati maupun kalimat-kalimat yang keluar dari lisannya semuanya sangat indah. Bahkan ungkapan kemarahan yang paling keras yang pernah keluar dari lisannya, paling jauh hanya mengatakan: “mudah-mudahan dahinya terkena lumpur”. Di luar itu paling beliau hanya menunjukkan kemarahan melalui ekspresi dari wajah sucinya. Yang penting dengan ekspresi tersebut, orang sudah mengetahui bahwa sesuatu itu membuat beliau tidak suka atau marah.

 

Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang paling gagah, rupawan, dan berwibawa. Dalam riwayat disebutkan bahwa para sahabat jika sedang berhadapan dengan Nabi saw kepalanya tertunduk, saking wibawa yang dimiliki oleh Nabi saw. Sikap para sahabat tersebut digambarkan seperti orang yang ada burung hinggap di kepalanya, dimana dikhawatirkan jika kepala bergerak maka burung-burung tersebut akan terbang. Ya, beliau sangat gagah dan berwibawa.

 

Ada orang yang gagah dan berwibawa, tapi tidak mengundang simpati orang. Ada juga orang yang gagah, berwibawa dan mengundang simpati, tapi tidak simpati dengan orang lain.

Adapun Nabi Muhammad saw, semua orang yang melihat atau bertemu dengannya merasa simpati. Beliau juga sangat bersimpati kepada orang lain. Apabila bertemu dengan anak-anak, beliau ajak bicara dengan ramah. Apabila beliau berjabat-tangan, tidak menarik tangannya sebelum orang yang menjabatnya menarik tangannya. Tidak pernah beliau duduk berselonjor di hadapan sahabat-sahabatnya.

 

Allah SWT sendiri yang mendidik Nabi Muhammad saw. Itu sebabnya kata para pakar, beliau ditinggal meninggal ayahnya sebelum beliau lahir. Setelah lahir kemudian beliau hidup di pedesaan dan hidup di lingkungan yang terpencil. Beliau juga tidak pandai membaca dan menulis. Mengapa seperti itu?

Karena kepribadian seseorang itu dipengaruhi oleh orang tuanya, orang-orang di sekitarnya, apa yang dia baca, lingkungannya, dst. Allah swt tidak ingin Nabi saw dipengaruhi oleh yang lain selain Allah. Karena Allah sendiri yang mendidik beliau. Addabani rabbi fa ahsana ta’diibi.

 

Kenapa Allah SWT berkehendak demikian? Kiranya karena Nabi Muhammad SAW akan dijadikan suri tauladan yang baik (uswatun hasanah) bagi seluruh manusia. Padahal manusia itu bermacam-macam karakteristik dan kemampuannya. Ada yang seniman, ada yang pemikir, ada ahli ibadah, ada pekerja, dll. Nabi Muhammad saw disiapkan oleh Allah SWT untuk dijadikan teladan oleh seluruh manusia yang bermacam-macam tersebut. Artinya Nabi saw memiliki keseluruhan sifat dan kemampuan terbaik yang dimiliki oleh semua manusia pada tingkatan yang sempurna.

 

Oleh karena itu sangat mengherankan jika manusia tidak cinta kepada Nabi Muhammad saw dengan segala kesempurnaannya itu. Kalau mereka mengenalnya dengan benar.

 

Cinta itu ada 2 macam. Ada cinta yang lahir dari perasaan dan ada cinta yang lahir dari akal (rasio). Kita dituntut untuk mencintai Nabi saw dengan perasaan maupun akal. Perasaan itulah yang melahirkan iman, sedangkan kekaguman berasal dari akal (karena beliau teramat sangat layak dan logis untuk dikagumi dan dicintai).

 

Cinta dan peneladanan adalah 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Namun demikian meneladani Nabi Muhammad saw juga harus secara cerdas, tidak asal meniru saja. Misalnya belakangan ini terdapat wacana untuk pengaturan pernikahan usia dini. Sebagian ulama, diantaranya Mufti Mesir, melarang praktik pernikahan dini ini. Mengapa demikian? Bukankah Nabi saw juga menikahi Sayyidatuna Aisyah ra dalam usia muda? Mufti Mesir tersebut berpendapat bahwa orang yang mengatakan mau meniru Nabi Muhammad saw dalam hal pernikahan beliau dengan Aisyah itu adalah orang Sombong. Seolah dia akan samakan dirinya dengan Nabi Muhammad saw. Kalau mau meneladani semua, bisa-bisa kita justru melanggar aturan syariat. Misalnya apakah kita mau mengumpulkan istri sampai 9 dalam satu masa? Oleh karena itu mengikuti/meniru Nabi Muhammad saw juga harus cerdas, tidak asal mengikuti semuanya. Apalagi belakangan ini citra islam sedang sangat buruk. Oleh karena itu jangan sampai kita bertindak apalagi atas nama islam yang ikut memperburuk citra islam tersebut.

 

Mari kita belajar lebih banyak lagi. Mari kita pelajari Nabi Muhammad saw lebih dalam lagi. Nabi Muhammad saw diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, yaitu segala sesuatu selain Allah SWT. Mari kita ikut membagi-bagikan Rahmat tersebut untuk seluruh alam semesta. Sesungguhnya seluruh manusia apapun agama dan keadaannya, hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati membutuhkan Rahmat tersebut.

 

Mari kita berusaha untuk menampakkan wajah Islam yang penuh rahmat. Semoga kita mendapatkan berkah dari Rasulullah SAW. [UA]

 

 

[1] Suatu kali seseorang pernah menemui Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra dan bertanya: “Ceritakan padaku akhlaq Muhammad”. Sayyidina Ali ra balik bertanya kepada si penanya, “Ceritakan kepadaku kenikmatan dunia beserta isinya ini.” Orang tersebut menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan kepadamu berbagai kenikmatan dunia yang begini luas?!”. Sayyidina Ali ra kemudian menjawab, “Engkau tak mampu menjelaskan kenikmatan dunia secara lengkap, padahal Allah SWT menyatakan bahwa kenikmatan dunia itu kecil (rujuk misalnya QS At-Taubah: 38). Lalu bagaimana aku mampu menjelaskan akhlaq Rasululllah saw, padahal Allah SWT mengatakan bahwa akhlaq beliau itu Agung / ‘adziem (rujuk QS al-Qalam: 4).” –UA
Advertisements

One thought on “Sang Nabi Paripurna, Sang Rahmat untuk Semesta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s